ABG - Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo menggelar karya bakti TNI di Desa Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, salah satunya adalah dengan mengadakan program Pompa Air Tanpa Motor (PATM) dan pembukaan lahan tidur di Desa Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur pada Rabu (23 April 2009).
"Target kami akan membuka lahan dan memanfaatkan lahan tidur seluas sekitar 300 hektar secara bertahap. Ini intensifikasi pertanian berbasis organik. Sudah dicoba di Gowa, hasilnya rata-rata 12,8 ton padi perhektar. Di sini insya Allah bisa juga seperti, tapi bila hasilnya sekitar 7-8 ton perhektar sudah luar biasa. Sementara menurut hasil pantauan, rata-rata petani di sini hanya menghasilkan 3-4 ton perhektar. Saya punya anggota yang ahli pertanian dan yakin bisa minimal 7-8 ton perhektar di sini," tegas Djoko Susilo Utomo.
Untuk program Pompa Air Tanpa Motor, Kodam VII Wirabuana bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan PT International Nickel Indonesia Tbk. (PT Inco). Acara program karya bakti TNI ini dimulai dengan tinjauan Pangdam VII ke lokasi proyek PATM di Desa Pekaloa. Dalam peninjauan ini, Pangdam VII disertai jajaran Kodam VII Wirabuana, Sekda Pemkab Lutim, Drs. HAT Umar Pangerang, jajaran Muspida Lutim, dan Senior Vice President and General Counsel PT Inco, Nurman Djumiril.
Usai dari tinjau proyek PATM, Djoko Susilo Utomo menggelar dialog interaktif dengan masyarakat setempat disaksikan jajaran Muspida Lutim, perwakilan manajemen PT Inco, dan para tokoh masyarakat setempat. Ponirin, salah satu warga dari unit transmigrasi menginginkan juga dibangun Pompa Air Tanpa Motor di daerahnya dan ada penyuluh untuk babi karena banyak babi liar yang merusak tanaman petani. Menanggapi permintaan itu, Djoko Susilo Utomo akan berupaya pada tahap berikutnya agar warga transmigrasi di Lutim juga dapat proyek PATM itu.
"Nanti kita akan upayakan asalkan di daerah itu ada sungainya. Karena pompa ini tidak perlu bahan bakar tapi bisa mengairi lahan-lahan tidur yang ada di sekitarnya bisa mencapai puluhan hektar bahkan ratusan hektar, tergantung kondisi sungainya. Soal penyuluh babi, Kodam VII belum punya ahlinya, yang ada baru penyuluh tikus yang bisa menghalangi tikus untuk makan padi. Nanti dicari dulu soal penyuluh babi ini," ujar Djoko Susilo Utomo.
Menurut Nurman Djumiril, keterlibatan PT Inco dalam program ini sebagai bagian dari CSR dari perusahaan."Program ini sekaligus sebagai komitmen perusahaan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan," ujar Nurman DjumirilSetelah dialog interaktif, Djoko Susilo Utomo dan rombongan meninjau lahan tidur yang akan diairi oleh program PATM di Desa Pekaloa. Dalam tinjauan ini, Djoko Susilo Utomo mendapat penjelasan langsung dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang juga anggota Kodam tentang teknik bercocok tanam dan bibit unggul yang akan ditanam sehingga dalam satu hektar hasil panennya minimal mencapai 8 ton.
"Ini saya juga bawa ahli tikus dari anggota saya. Jadi bagaimana tikus tidak makan tanaman padi bisa juga ditanyakan ke anggota saya ini. Selain itu, saya juga bawa anggota saya yang ahli tanaman cabe. Mereka itu nanti akan saya perintahkan tinggal di sini dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat di sini bagaimana bertani yang produktif dan menanam cabe yang produktif. Saya sudah buktikan menanam padi di Gowa dengan hasil 12,8 ton per hektar dan menanam satu juta pohon cabe di Sulsel ini dan berhasil," ujar Djoko Susilo Utomo.
Menurut Djoko Susilo Utomo, tujuan utama dari program ini adalah untuk melestarikan dan menjaga lingkungan. " Di sini kabarnya dari 218 ribu hektar hutan, yang rusak sudah 84 ribu hektar. Nah kami ini kerja sama dengan Pemkab Lutim untuk membuka lahan tidur. Jadi kalau kita larang masyarakat merambah hutan, kita juga berikan solusinya yaitu kita siapkan lahan untuk bercocok tanam. Kita ajak masyarakat untuk tidak lagi babat hutan, tapi kita kasih lahan untuk bertani. Saya dapat perintah dari Presiden untuk program ketahanan pangan. Ini salah satu solusinya," pungkas Djoko Susilo Utomo. (*)
Keterangan foto: Pangdam VII Wirabuana, Mayjen.TNI Djoko Susilo Utomo sedang meninjau lahan tidur yang akan ditanami anggota Kodam VII Wirabuana bersama masyarakat di Desa Pekaloa, Kabupaten Luwu Timur.
[www.kabarindonesia.com / ABG ]

EKSTRAK ORGANIK DAN NUTRISI
ABG®
(AMAZING BIO-GROWER)
ABG merupakan konsentrat organik dan nutrisi tanaman hasil ekstraksi secara mikrobiologis melalui proses fermentasi berbagai bahan organik berkualitas tinggi (ikan, ternak dan tanaman), mengandung senyawa bioaktif (plant growth promoting agent, asam-asam amino, enzim), mikroba menguntungkan (pengurai, penambat N, pelarut fosfat dan penghasil fitohormon) dan diperkaya dengan hara esensil
ABG- BUNGA DAN BUAH (B)
• Merangsang pertumbuhan akar, pembungaan dan pembuahan
• Meningkatkan kualitas bunga (ukuran, warna), buah, umbi dan citarasa
• Mengurangi kerontokan bunga, buah dan gabah padi
• Meningkatkan pengisian gabah (padi), polong, buah dan umbi (bawang dan kentang)
• Meningkatkan, efisiensi pemupukan, kesehatan tanaman dan resistensi terhadap
serangan hama dan penyakit
• Digunakan menjelang tanaman berbunga (2 – 3 kali aplikasi) dengan interval 10
hari untuk tanaman semusim, sedangkan untuk tanaman tahunan interval 20 – 30 hari
KANDUNGAN DAN KOMPISISI
2 % C-org, 8% N, 8% P2O5, 14 % K2O, 1% CaO, 0,8% MgO, 1% S dan mikro element (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu), asam-asam amino dan senyawa bioaktif (GA3 800 ppm).
DOSIS DAN TEKNIK APLIKASI
• Tanaman Pangan & Sayuran: Larutkan 1 - 2 cc/L air , siramkan pada perakaran atau
semprotkan pada tanaman (1 – 3 kali) dengan interval aplikasi 7 – 10 hari.
• Tanaman Hias : Larutkan 1 – 2 cc/L air, disiramkan dan disemprotkan pada tanaman
dengan Interval aplikasi 10 – 14 hari
• Tanaman Tahunan. Larutkan 2 – 4 cc /L air, siramkan 0,5 – 5 L larutan/pohon pada
perakaran tanaman (jika memungkinan juga disemprotkan pada daun). Interval
aplikasi 20 – 30 hari.
ISI Netto = 250 cc (1 tutup = 10 cc)

ABG merupakan konsentrat organik dan nutrisi tanaman hasil ekstraksi secara mikrobiologis melalui proses fermentasi berbagai bahan organik berkualitas tinggi (ikan, ternak dan tanaman), mengandung senyawa bioaktif (plant growth promoting agent, asam-asam amino, enzim), mikroba menguntungkan (pengurai, penambat N, pelarut fosfat dan penghasil fitohormon) dan diperkaya dengan hara esensil
ABG - DAUN (D)
• Meningkatkan pertumbuhan akar, tunas, pucuk, daun tanaman pangan, sayuran, tanaman perkebunan, buah-buahan, bibit tanaman, dan tanaman hias
• Meningkatkan efisiensi pemupukan, kesehatan tanaman, ketahanan terhadap penyakit dan hasil tanaman
• Perendaman benih (dipping) untuk meningkatkan kesehatan tanaman dan mempercepat pertumbuhan.
• Digunakan hingga tanaman menjelang berbunga (1 - 3 kali), dengan interval 10 hari untuk tanaman semusim, sedangkan untuk tanaman tahunan interval 1 – 2 bulan
KANDUNGAN DAN KOMPISISI
2 % C-org, 14% N, 6% P2O5, 8% K2O, 0,8% CaO, 0,5% MgO, 1% S dan mikro (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu), asam-asam amino dan senyawa bioaktif (GA3 400 ppm).
DOSIS DAN TEKNIK APLIKASI
• Tanaman Pangan & Sayuran: Larutkan 1 - 2 cc/L air , siramkan pada perakaran atau semprotkan pada tanaman (1 – 3 kali) dengan interval 7 – 10 hari.
• Tanaman Pembibitan/Tanaman pot : Larutkan 1 – 2 cc /L air, siramkan & semprotkan 50 – 300 mL/ tanaman, interval aplikasi 10 - 14 hari
• Tanaman Hias: Larutkan 1 – 2 cc/L air, disiramkan dan disemprotkan pada tanaman. Interval aplikasi 10 – 14 hari
• Tanaman Tahunan. Larutkan 2 – 4 cc /Lair, siramkan 0,5 – 5 L larutan/pohon pada perakaran tanaman. Interval aplikasi 30 – 60 hari. Untuk rehabilitasi tanaman tidak produktif berikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 10 -14 hari
• Ternak/Ikan: Campurkan 10 – 20 cc untuk 4 – 5 kg pakan ikan. Untuk ternak diberi melalui air minum dengan konsentrasi 1 cc /L air atau disiramkan pada pakan.
ISI Netto = 250 cc (1 tutup = 10 cc)

ABG- Bios sebagai perpaduan pupuk organik dan pupuk hayati (biofertilizer) dan senyawa bioaktif dan untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas maupun kualitas hasil tanaman (pangan, sayuran, buah-buahan, perkebunan, kehutanan, dan hias) serta mengurangi penggunaan pupuk anorganik
KEGUNAAN ABG-BIOS
• Mengembalikan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah (revitalilasi kualitas dan kesehatan ekosistem tanah)
• Meningkatkan ketersediaan hara (makro dan mikro) bagi tanaman dan menaikkan pH tanah
• Meningkatkan aktivitas dan keanekaragaman hayati (biodiversity) biota tanah yang penting dalam meningkatkan ketersediaan hara (pupuk hayati) dan menekan pertumbuhan patogen (soil born diseases)
• Meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P
• Mengurangi penggunaan pupuk buatan (anorganik) dengan signifikan
KANDUNGAN DAN KOMPOSISI
• 14 %C-org, C/N 20, 4 % P2O5, 4 % K20, 11 ppm Zn, 12 ppm Cu, 4 ppm B, 2 ppm Mo, 26 ppm Fe dan 20 ppm Mn, kadar air 14 %
• Bakteri penambat N Nonsimbiotik (2 X 105 – 107) dan Bakteri Pelarut Fosfat (2 X 105 – 107)
Catatan:
Untuk memacu pertumbuhan vegetatif (daun, anakan) kombinasikan dengan penyemprotan ABG-D (Daun) dan untuk mendorong pertumbuhan generatif (pembungaan, pembentukan buah) kombinasikan dengan ABG- B (Bunga dan Buah)
Catatan :
Dosis pupuk anorganik dapat dikurangi sekitar 25 - 50%
• Dapat digunakan sebagai campuran media tanam, yaitu campuran tanah dan BIOS dengan komposisi sekitar 1 – 2 % BIOS dari total berat media tanam
• Dosis disesuaikan dengan ukuran polibag (berat media tanam) dan umur tanaman.
Catatan :
Penggunaan pupuk anorganik (Urea, SP-36 dan KCl) dapat dikurangi sekitar 25% - 50 %, (2) Untuk memacu pertumbuhan vegetatif (daun, anakan) kombinasikan dengan penyemprotan ABG-D (Daun) dan untuk mendorong pertumbuhan generatif (pembungaan, pembentukan buah) kombinasikan dengan ABG-B (Bunga dan Buah)

(AMAZING BIO-GROWER)
ABG merupakan konsentrat organik dan nutrisi tanaman hasil ekstraksi secara mikrobiologis melalui proses fermentasi berbagai bahan organik berkualitas tinggi (ikan, ternak dan tanaman), mengandung senyawa bioaktif (plant growth promoting agent, asam-asam amino, enzim), mikroba menguntungkan (pengurai, penambat N, pelarut fosfat dan penghasil fitohormon) dan diperkaya dengan hara esensil
ABG- SAWIT
• Sebagai pupuk organik, anorganik dan fitohormon (ZPT) pada pembibitan maupun
tanaman di lapangan (TBM dan TM)
• Mengatasi gejala kekurangan hara (makro & mikro) dengan cepat dan meningkatkan
efisiensi pemupukan
• Meningkatkan pertumbuhan dan kualitas bibit, hasil (mengurangi kerontokan dan
buah kosong atau bunga jantan)
• Meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah (soil remediator)
KANDUNGAN DAN KOMPISISI
5 % C-org, 12% N, 8% P2O5, 12 % K2O, 1% CaO, 1 % MgO, 1% S, 1000 ppm B, 200 ppm Fe, 300 ppm Zn, dan 200 ppm Mn), asam-asam amino dan senyawa bioaktif (GA3 500 ppm).
DOSIS DAN TEKNIK APLIKASI
• Pembibitan: Larutkan 1 - 2 cc ABG-S/L air, disemprotkan pada tanaman dan
siramkan pada perakaran (sekitar 50 -200 mL/tanaman), dengan interval aplikasi 10
– 20 hari.
• Pertanaman : Larutkan 10 – 30 cc ABG-S dalam 5 – 10 L air, disiramkan pada
perakaran pada lingkaran tengah dan terluar dengan Interval aplikasi 30 – 60 hari
(dosis 20 – 30 cc ABG-S/L per tanaman). Pada tanaman yang kurang produktif atau
merana berikan ABG-S dengan interval 30 hari hingga pertumbuhan normal
ISI Netto = 250 cc (1 tutup = 10 cc)
Oleh : Ir. Yopy Halomoan, MSI ABG Daun pada Tanaman Semusim ABG Daun pada Tanaman Tahunan
Tanaman sebagai mahluk hidup memiliki fase-fase pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan tanaman di tandai dengan bertambahnya sel-sel di dalam jaringan tanaman sehingga menjadi semakin besar sedangkan perkembangan di tandai dengan semakin matang atau dewasanya tanaman. Fase pertumbuhan tanaman dibagi menjadi empat antara lain fase pembibitan, fase pertumbuhan vegetatif atau pertumbuhan daun dan akar, serta fase pertumbuhan generatif atau pertumbuhan bunga dan fase pembesaran buah atau umbi.
Dari keempat fase pertumbuhan ini masing-masing memiliki kebutuhan hara (makanan) tanaman yang berbeda bobotnya. Misalnya pada fase pertumbuhan vegetatif rasio pertumbuhan daun (pucuk) dan akar merupakan hal yang sangat penting. Apabila pertumbuhan akar lebih dominan dari pada pertumbuhan daun akan menyebabkan terhentinya pertumbuhan tanaman yang akan berpengaruh terhadap produksi demikian juga sebaliknya.
Alasan inilah yang membuat lahirnya produk ABG Daun dimana komposisi haranya disesuaikan dengan pertumbuhan vegetatif tanaman. ABG daun yang memiliki komposisi Hara 6% C organik, 14% N, 6% P2O5, 8%K2O, 1%CaO, 0,5%MgO, 1%S dan hara mikro (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu) juga dilengkapi dengan mikroba tanah yang menguntungkan serta asam-asam amino yang merupakan makanan bagi mikroorganisme di dalam tanah. Tersedianya hara tanaman pada media yang kaya akan mikroba akan memaksimalkan pertumbuhan tanaman di fase vegetatif. Selain itu ABG daun juga mengandung hormon tumbuh alami tanaman seperti auksin, sitokinin dan giberelin yang merangsang pertumbuhan ujung-ujung akar dan ujung daun.
ABG daun juga dapat digunakan untuk merendam benih sebelum di semai hanya dengan mengunakan dosis 1-2 cc/L air benih dapat direndam 1-2 jam sebelum dilakukan perlakuan seperti biasa atau dapat juga digunakan untuk membasahi akar bibit tanaman seperti pada tanaman singkong, kacang, dan lainnya sebelum bibit ditanam. Pada tanaman ABG Daun dapat digunakan dengan cara disiramkan, disemprot, atau kombinasi keduannya seperti berikut ini :


Penggunaan ABG daun dengan tepat akan menghasilkan tanaman yang sehat dan kuat sehingga meningkatkan produksi tanaman pada fase pembesaran buah dan tanaman lebih kuat dari serangan penyakit. Pastikan anda menggunakan ABG daun dengan benar dan manfaatkan hasilnya bagi tanaman anda. Selamat mencoba.
Indonesia ekspor beras. Berita menjelang pemilu ini dapat ditanggapi dengan berbagai cara. Ekspor dapat berarti bahwa produksi padi kita sudah surplus dan itu berarti pertanian kita bagus dalam pertumbuhannya, pembangunan pertanian kita berhasil.
Akan tetapi, kebijakan ekspor beras yang dilakukan menjelang pemilu ini dapat dengan segera dipandang sebagai komoditas politik, klaim keberhasilan pemerintah di bidang pangan.
Ditinjau dari data statistik yang disediakan Badan Pusat Statistik, angka-angka kinerja empat pangan utama pada tahun 2006-2008 memang menunjukkan kenaikan. Dari angka kuantitas komoditas padi, jagung, kedelai, dan gula, hanya kedelai yang pernah menurun, yaitu pada tahun 2007. Selebihnya, keempat komoditas mengalami kenaikan kuantitas produksi pada tahun 2006-2008.
Panelis pada Diskusi Panel Ahli Ekonomi Kompas, Rabu (1/4), beretorika. Bagaimana angka-angka itu didapatkan? Faktor-faktor apa yang dilihat serta didata? Untuk meneliti metode yang dilakukan BPS, tentu amat rumit, terutama dari pengambilan sampel, lembaga lain akan sulit menandingi BPS yang mengambil sekitar 41.000 sampel.
Angka pertumbuhan produksi padi juga menunjukkan anomali (baca: lonjakan signifikan) pada tahun dilangsungkannya pemilu. Data tahun 2002 hingga 2008 menunjukkan lonjakan pertumbuhan, yaitu 3,74 persen pada tahun 2004 setelah pada tahun 2003 pertumbuhan produksi padi hanya 1,26 persen. Setelah itu, pertumbuhan kembali mengecil menjadi 0,12 persen dan 0,56 persen pada tahun 2005 dan 2006. Tahun 2007 angka pertumbuhan mencapai 4,76 persen dan setahun berikutnya menjadi 5,46 persen.
Penyebab kenaikan
Ada sejumlah faktor yang memungkinkan terjadinya kenaikan angka produksi padi. Panelis itu menyebutkan sejumlah faktor, yaitu terjadi peningkatan produktivitas dan areal panen sekaligus (baca: pertambahan indeks pertanaman/IP), insentif stabilisasi harga, dan perbaikan kelembagaan teknologi produksi.
Sementara itu, masih terlalu sedikit observasi untuk bisa menyimpulkan bahwa peningkatan produksi padi terjadi akibat perubahan teknologi, rekayasa genetika—memang ada sejumlah partai yang mengklaim menemukan benih padi unggul—dan bahkan kelembagaan pembiayaan.
Faktor lainnya adalah perbaikan infrastruktur pertanian, yaitu saluran irigasi, jalan desa, dan jalan produksi. Untuk saluran irigasi, data Departemen Pekerjaan Umum menunjukkan, total kerusakan jaringan irigasi mencapai 714.000 hektar, meliputi kerusakan ringan, sedang, dan berat.
Kerusakan jaringan irigasi pada tahun 2004 mencapai 1,5 juta hektar dari total luas jaringan 6,7 juta hektar. Hingga tahun 2008, jaringan irigasi yang sudah diperbaiki 1,3 juta hektar. Namun, bencana alam 2007-2008 menambah kerusakan jaringan irigasi sebesar 514.000 hektar. Total biaya perbaikan jaringan irigasi itu Rp 4,28 triliun. Departemen PU menargetkan perbaikan 200.000 hektar jaringan irigasi yang rusak pada tahun 2009 (Kompas, 4 Februari 2009 dan 31 Juli 2008).
Bicara soal IP, panelis tersebut mencoba menyingkap misteri angka IP. Angka IP pun meningkat saat menjelang pemilu, yaitu tahun 2003 naik signifikan dari 122,92 persen menjadi 144,03 persen. Fakta lapangan berbicara lain. Pertambahan penduduk telah mendorong industri properti dan sawah yang nomor satu dilirik pengembang.
Jika dilihat dalam cakupan lebih luas, ternyata politik pertanian di kawasan Asia memang penuh dengan ironi karena jumlah anggaran untuk kepentingan pertanian dan pedesaan terus mengecil persentasenya terhadap produk domestik bruto (PDB).
Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa nyaris semua negara sampel kecuali Myanmar yang hampir sama antara komitmen tahun 1990 dan 2005, di negara-negara lainnya (China, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand) angka tersebut menurun sebesar 25 persen-78 persen. Penurunan 78 persen terjadi di Indonesia (!)
Ironi juga terjadi ketika di Indonesia yang sudah ekspor beras ini justru banyak ditemukan kasus-kasus malnutrisi dan rawan gizi.
Perubahan iklim
Ketika faktor-faktor pertanian (konvensional) dan rekayasa teknologi belum dilakukan secara optimal, Indonesia kini sudah menghadapi tantangan baru yang juga menjadi tantangan global.
Hal itu adalah fenomena perubahan iklim yang berbuntut pada permintaan pangan untuk biofuel, krisis ekonomi global dan perubahan struktur perdagangan, aksi para investor (spekulan) global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu, serta adanya sasaran pembangunan milenium (MDGs) yang tujuannya adalah mengurangi jumlah orang miskin dan lapar hingga separuhnya dengan target tahun 2015.
Fenomena perubahan iklim bukanlah perkara main-main karena perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global ini memengaruhi pangan dan pertanian.
Akibat perubahan iklim, terjadilah pergeseran awal musim hujan, musim hujan berlangsung lebih singkat dengan intensitas curah hujan lebih tinggi, sedangkan musim kemarau/kering lebih panjang. Padahal di sisi lain kebutuhan akan air cenderung meningkat seiring meningkatkan populasi global.
Tahun 1940, misalnya, kebutuhan akan air untuk pertanian sekitar 900 kilometer kubik (900 miliar meter kubik). Pada tahun 2000 kebutuhan tersebut menjadi berlipat hingga lebih dari 3 miliar meter kubik.
Dari data yang disampaikan seorang panelis (dikutip dari Handoko et.al) diperkirakan, pada tahun 2050 terjadi penurunan padi sawah hingga 10,5 juta ton (20,3 persen) dan padi ladang berkurang hingga 761.500 ton (27,1 persen). Secara ekstrem, dua peneliti AS bahkan menyatakan, sekitar separuh penduduk dunia akan menghadapi krisis pangan pada tahun 2100 (Kompas, 15 Januari 2009).
Belum lagi ancaman yang datang dari laut. Akibat pemanasan global dan perubahan iklim, permukaan air laut diperkirakan naik. Menurut Handoko yang dikutip panelis, sekitar 113.000 hektar sawah di Jawa akan hilang jika ketinggian air laut naik 0,5 meter. Luas itu bertambah menjadi 146.500 hektar jika air laut naik 1 meter. Hal serupa terjadi di wilayah-wilayah lainnya (lihat gambar).
Komoditas pangan ternyata tidak sesuai dengan teori penawaran-permintaan (supply- demand). Terbukti dengan populasi yang terus bertambah, ternyata harga justru menurun. Fluktuasi semacam ini juga terjadi pada komoditas perkebunan. Perubahan iklim juga telah dituding sebagai penyebab naiknya harga komoditas pangan karena harus bersaing sebagai penyedia bahan biofuel. Hingga kini masih terus terjadi ketegangan antara kepentingan biofuel dan pangan.
Sementara perkembangan sistem perdagangan dengan maraknya ritel ternyata tidak juga mengangkat nasib petani karena mereka tidak dilibatkan di sana. Pemodal besar lagi-lagi memetik keuntungan. Pemodal besar ini menguasai proses sejak dari hulu hingga hilir produksi pangan.
Ketahanan pangan pada akhirnya hanya akan menjadi mimpi pada siang bolong jika tak ada perbaikan infrastruktur dan suprastruktur. Perbaikan di bidang produksi amat dibutuhkan, terutama yang menyentuh manajemen usaha tani, peningkatan produktivitas, dan kelembagaan.
Selain itu, perlu dibangun sistem insentif untuk mewujudkan stabilisasi harga. Infrastruktur perangkat lunak juga harus digarap, yaitu pendidikan petani; peningkatan kualitas SDM, termasuk aparatur bidang pertaniannya; serta perbaikan sistem pembiayaan pertanian secara umum.
Perwujudan kemandirian (kedaulatan?) pangan dimulai dari pembangunan pedesaan dan pemberdayaan kehidupan petani. Masukan dari panelis ini jelas arahnya, yaitu pembangunan mesti meletakkan pertanian dan pedesaan pada posisi strategis demi ketahanan pangan.
Masalahnya, sekarang justru lobi-lobi pengusaha yang kuat telah berhasil membujuk pemerintah untuk menggarap lahan gambut di Kalimantan Tengah yang notabene justru akan menghancurkan pertanian karena lahan gambut melepas karbondioksida dalam jumlah amat besar.
Padahal, karbon adalah salah satu unsur gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim… yang merugikan petani. Nah! (isw/aik/ken/tat)










