| 0 komentar ]


Oleh: Djoko Susilo Utomo (Panglima Kodam VII/Wirabuana)

Krisis ekonomi global yang sedang berlangsung dan mulai terasa pengaruhnya di Indonesia, cepat atau lambat, diperkirakan berdampak serius pada masalah kekurangan pangan dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Hal tersebut harus segera dicarikan solusinya. Jika tidak, akan berpengaruh secara luas pada stabilitas pertahanan dan keamanan nasional.

Jika dicermati lebih lanjut, kondisi krisis pangan yang menimpa bangsa Indonesia merupakan manifestasi dari kelalaian masyarakat melihat potensi internal negeri ini, terutama di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.


Pola pikir masyarakat Indonesia yang saat ini masih berkutat di seputar masalah sosial dan politik, rupanya membius setiap individunya untuk berlomba-lomba menjadi politisi dan pejabat publik hingga terlena dan lalai bahwa ada begitu banyak potensi industri lain yang saat ini belum tergarap secara maksimal.

Upaya memperkuat ketahanan pangan pemerintah mengisyaratkan harus dilakukan minimal dalam jangka waktu tiga tahun. Caranya, pertanian harus terus tumbuh dan berkembang.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan jenis bibit dan pupuk yang tepat, cara bercocok tanam serta upaya melawan hama secara efektif. Jaringan irigasipun harus cukup. Setelah panen, harus ada mekanisme dan manajemen yang baik sehingga harga jualnya baik, namun tidak memberatkan masyarakat.

Menindaklanjuti program pemerintah dalam menanggulangi krisis pangan global tersebut, Kodam VII/Wirabuana sebagai salah satu komponen bangsa dan sebagai komando kewilayahan (Kowil) yang berada di wilayah Sulawesi, berupaya secara maksimal untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Upaya Kodam VII/Wirabuana ini lebih didasarkan pada kondisi wilayah Sulawesi, khususnya wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung beras nasional.

Potensi Pangan di Sulsel

Dengan produksi rata-rata 2,5 juta ton beras per tahun, telah menempatkan Sulsel sebagai daerah penyangga pangan nasional terbesar kedua setelah Jawa Timur. Areal pertanian yang dimiliki provinsi ini cukup besar, yaitu mencapai 1.411.446 ha, yang terbagi dalam lahan persawahan seluas 550.127 ha, dan lahan kering seluas 861.319 ha.

Jumlah areal yang cukup besar tersebut, jika dikelola maksimal, sangat berpotensi menunjang ketahanan pangan nasional.

Dari luas persawahan tersebut, yang beririgasi teknis mencapai 26,60 persen, irigasi setengah teknis 9,24 persen, irigasi sederhana 10,11 persen, irigasi Desa/Non PU 13,12 persen, tadah hujan 40,71 persen, dan Rawa Non Pasang Surut 0,22 persen.

Sawah-sawah inilah yang pada 2006 hanya menghasilkan sampai 3.365.509 ton padi, terdiri atas 3.352.116 ton padi sawah dan 13.393 ton padi ladang.

Dibanding pada tahun-tahun sebelumnya, produktivitas padi yang dicapai lebih baik, yaitu pada 2004, produksi padi di Sulsel mencapai 3.552.834 ton sementara pada 2005 mencapai 3.619.652 ton.

Sebagai salah satu lumbung beras nasional, Sulsel setiap tahunnya menghasilkan hampir sekitar 2.305.469 ton beras. Dari jumlah itu, untuk konsumsi lokal hanya 884.375 ton dan 1.421.094 ton sisanya merupakan cadangan yang didistribusikan bagian timur lainnya bahkan telah diekspor sampai ke Malaysia, Filipina dan Papua Nugini.

Lokasi produksi padi terbesar berada di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu (Bosowasipilu).

Untuk pertanian padi, dari sawah tadah hujan yang 40,71 persen dari total luas sawah yang ada di wilayah Sulsel tersebut, ternyata hanya dapat ditanami sekali dalam setahun.

Penanaman padi di areal tersebut sering kali gagal panen karena kekurangan air, baik untuk pengolahan tanah maupun untuk pertumbuhan tanaman. Petani pada umumnya menunggu sekitar dua bulan sejak turunnya hujan untuk melakukan pengolahan tanah, karena pada waktu tersebut air sudah menggenangi sawah.

Akibatnya waktu tanam tertunda, sehingga pada fase pertumbuhan generatif, tanaman sering mengalami kekeringan dan gagal panen.

Solusi Terbaik di Bidang Pertanian

Mencermati kendala-kendala tersebut dengan dihadapkan pada kemampuan sumberdaya alam yang besar di Sulsel, Kodam VII/ Wirabuana melakukan upaya-upaya realistis guna mendukung upaya peningkatan pangan masyarakat Sulsel, terutama untuk merealisasikan target surplus beras dua juta ton.

Sasaran produksi yang harus dicapai pada 2009 adalah luas panen 868.411 ha, produktivitas 58,55 Ku/ha dan produksi harus mencapai 5. 084.323 ton gabah kering giling.

Mengatasi keterbatasan sarana irigasi yang dihadapi masyarakat Sulsel, Kodam VII/Wirabuana telah turut berupaya mencari solusi alternatif terbaik dalam mengatasi kendala pengairan lahan tersebut. Ada beberapa jalan keluar yang ditawarkan dan dilaksanakan, yakni sebagai berikut:

Pertama, melalui pemberdayaan teknologi Pompa Air Tanpa Motor (PATM). Pengadaan alat ini diupayakan melalui kerja sama dan koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulsel dan pihak ketiga selaku distributor PATM di wilayah Sulawesi.

Dengan menggunakan teknologi ini, sawah tadah hujan dan lahan padi yang terletak di ketinggian dan lahan-lahan yang letaknya jauh dari sumber air sungai atau danau, bisa dioptimalkan pada musim kemarau.

Itu karena PATM bisa memancarkan air hingga pada ketinggian ratusan meter. Pemanfaatan teknologi PATM ini telah diterapkan di beberapa wilayah di Sulawesi, terutama di wilayah Provinsi Gorontalo dan Sulsel. Hasilnya menunjukkan peningkatan produksi jagung dan padi.

Kedua, pemberdayaan bibit unggul. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi hasil panen adalah jenis bibit padi yang ditanam. Kodam VII/Wirabuana telah berkoordinasi dengan banyak pihak di antaranya Dinas Pertanian, para kelompok tani dan perbankan, guna menyediakan bibit unggulan yang cocok bagi masing-masing wilayah di Sulsel.

Salah satu bibit dan varietas tanaman padi yang telah dikembangkan di Sulawesi adalah varietas tanaman padi jenis Hibrida. Varietas ini sudah diuji coba dan dipanen di Kabupeten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada areal 25 ha. Kualitas hasilnya lebih tinggi dibandingkan jenis padi lainnya.

Khusus di Sultra, pengadaan bibit tersebut dilakukan Kodam VII/Wirabuana bekerja sama dengan Perusahaan Daerah (PD) Utama Sultra dan Pusat Pengembangan Padi Hibrida di Lampung dan dikelola PT Sumber Alam Sutera, perusahaan Kelompok Artha Graha.

Keterlibatan Kodam VII/Wirabuana diwakili oleh para Babinsa sebagai penggerak dan motivator di lapangan.

Ketiga, pengadaan pupuk. Untuk membantu para petani mendapatkan pupuk yang memadai dan ideal, Kodam VII/Wirabuana berupaya agar distribusi pupuk ke daerah tidak terjadi hambatan. Hal ini dilakukan melalui koordinasi dan kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertanian serta perbankan.

Keterlibatan Kodam VII/Wirabuana melalui para Babinsa adalah melakukan kerjasama dengan aparat Polri setempat dalam pengawalan dan pengawasan terhadap pendistribusian pupuk kepada para petani.

Keempat, pola tanam. Selama ini, para petani di Sulsel lebih banyak menggunakan pola tanam tradisional. Akibatnya, hasilnya kurang optimal. Padahal idealnya, lahan seluas 1 ha bisa menghasilkan 10 ton.

Nah, untuk mewujudkan hasil panen yang ideal, maka dilaksanakan MoU antara Gubernur Sulawesi Selatan dengan Pangdam VIIWirabuana Nomor 415.43/4649DISTAN dan Nomor B1164/VIII/2008 tanggal 9 Agustus 2008

tentang pengawalan dan pendampingan dalam rangka mendukung gerakan surplus beras 2 juta ton dan produksi jagung 1,5 juta ton tahun 2008/2009 di Sulsel.

Guna merealisasikan hal ini, maka para Babinsapun diberikan pelatihan agar dapat memotivasi petani, khususnya untuk mengubah kebiasaan dari tradisional ke modern.

Dalam hal ini, para Babinsa mengarahkan para petani, mulai dari saat pengolahan, penanaman, pemeliharaan, sampai pada saat panen. Terkait dengan pola tanam tersebut, di Sulsel khususnya di daerah Gowa, telah digunakan metode Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO).

Selama kurun waktu 2006-2007, intensifikasi dengan metode tersebut yang dilaksanakan di beberapa lokasi di Jabar dan Jatim telah mampu menghasilkan padi sekitar 10-12 ton per ha atau naik rata-rata 50-100 persen dibanding dengan sistem konvensional (anaerob).

Dari sisi keunggulan, metode Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik ini, bisa juga menghemat air hingga 25 persen dari sawah konvensional sehingga sangat sesuai untuk musim kering, hemat bibit 20-25 persen, hemat pupuk dan hemat pestisida, sedangkan panen bisa lebih awal 7-10 hari.

Selain itu, Kodam VII/Wirabuana juga telah mengikutsertakan dua orang personel Babinsa dari Korem 143/Ho bersama-sama dengan kelompok tani dan personel Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara,

mengikuti pelatihan tentang pengolahan dan budidaya padi lokal jenis padi hibrida Bernas super di Lampung, untuk dikembangkan di daerah.

Kelima, kerja sama dengan perbankan. Kemitraan dengan perbankan ini dilaksanakan untuk membantu petani dalam pembiayaan pada saat pembelian bibit dan pupuk, mengingat pihak perbankan sering mengalami kekhawatiran pada pasca panen para petani tidak memenuhi kewajiban untuk membayar sesuai kesepakatan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka Satuan Kowil jajaran Kodam VII/Wirabuana turut membantu memecahkan masalah tersebut.

Keenam, memanfaatkan lahan tidur. Untuk mengelola lahan tidur yang ada di wilayah Sulawesi, diperlukan sarana yang cukup, di antaranya adalah sarana pengairan. Menteri Pertanian Republik Indonesia telah menyetujui bantuan PATM untuk mendukung hal tersebut.

Berbagai upaya yang dilakukan Kodam VII/Wirabuana dalam meningkatkan ketahanan pangan, khususnya upaya membuka atau memberdayakan lahan tidur yang ada tersebut, sekaligus menjadi salah satu solusi alternatif untuk menampung para buruh kerja yang kehilangan pekerjaan akibat di-PHK oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Hal ini perlu menjadi perhatian, mengingat dampak dari krisis global akhir-akhir ini tentu bisa juga berakibat buruk bagi dunia lapangan kerja, sehingga dibutuhkan banyak solusi,

di antaranya dengan membuka lahan tidur untuk menghidupkan sektor pertanian, dengan demikian para buruh yang kehilangan pekerjaan diharapkan bisa kembali ke kampung halaman dengan bertani.

Guna lebih meningkatkan dan mengoptimalkan hasil dari pelaksanaan peran Kowil dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional, maka terdapat hal-hal yang perlu mendapat perhatian, di antaranya perlunya program gerakan TNI Manunggal Pangan diintensifkan kembali.

Mengingat kebutuhan masyarakat di bidang pangan semakin meningkat, sedangkan cadangan pangan di daerah terbatas.

Selain itu, perlu pengalokasian dukungan anggaran guna mendukung kegiatan Gerakan TNI Manunggal Pangan, dan diperlukan adanya kerja sama di tingkat pusat antara pimpinan TNI dengan Kementerian Pertanian RI, sehingga pelaksanaan dan koordinasi di tingkat Satuan TNI dengan Dinas/Instansi terkait di daerah dapat berjalan dengan baik.

Sumber : fajar.co.id


Baca Selengkapnya...
| 0 komentar ]

Bagaimanapun keindahan adenium tak bakal tampak bila tak dilakukan perawatan. Inilah sejumlah pemeliharaan yang rutin diterapkan pada adenium anda

A. Manfaat nutrisi

1. Unsur makro
2. Unsur mikro

B. Jenis-jenis pupuk dan sifatnya
1. Pupuk anorganik
2. Pupuk Organik

C. Metode Aplikasi
1. Tanaman bibit
2. Tanaman remaja
3. Fase generatif


A. MANFAAT NUTRISI

Setahun lalu , seorang konsumen membeli adenium di sebuah showroom di Semarang. Sosoknya amat mempesona. Setiap tangkai memunculkan bunga berwarna merah muda yang indah. Penampilan tanaman dianggap layak untuk mengungkapkan cinta Adenium seharga Rp 4.000.000 itu kemudian dipersembahkan kepada sang pujaan hati.

Tujuh bulan berselang , sang gadis mendatangi showroom itu. Ia mengungkapkan adenium pemberian kekasihnya kini merana. Penampilan tanaman itu berubah drastis. Yang tersisa hanya ranting gundul dan daun kuning di beberapa anakan cabang. Wajar bila bunga seperti mogok muncul. Diakuinya , ia memang tidak pernah memberi pupuk. Sesekali , ia menyiramkan air beras bila melihat media kering.

Pupuk ibarat makanan bagi tumbuhan. Ia diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Di alam , tanaman menyerap nutrisi dari dalam tanah dan udara. Sedangkan di dalam wadah , nutrisi harus dipasok dalam kurun waktu tertentu.

1. UNSUR MAKRO
Unsur hara makro berisi hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak. Namun , tidak berarti jumlah yang diberikan tak terbatas. Ada ambang tertentu yang ditoleransi tanaman. Melebihi batas itu , tanaman mengalami keracunan yang bisa berlanjut hingga mati.
Ada 12 jenis unsur kimia yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Unsur itu adalah nitrogen (N) , fosfor (P) , kalium (K) , magnesium (Mg) , sulfur (S) , dan kalsium (Ca) , boron (B) , besi (Fe) , tembaga (Cu) , mangan (Mn) , seng (ZN) , dan molibdenum (Mo). Setiap unsur memiliki pengaruh penting dalam pertumbuhan tanaman.
Kebutuhan tanaman akan masing-masing unsur berlainan. Tergantung pada umur , jenis , dan lingkungan.

a. Nitrogen (N)
Nitrogen berperan dalam pembentukan sel , jaringan , dan organ tanaman. Ia berfungsi sebagai sebagai bahan sintetis klorofil , protein , dan asam amino. Karena itu kehadirannya dibutuhkan dalam jumlah besar , terutama saat pertumbuhan vegetatif. Bersama fosfor (P) , nitrogen digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Terdapat 2 bentuk nitrogen yakni amonium dan nitrat. Sejumlah penelitian membuktikan amonium sebaiknya tidak lebih dari 25% dari total konsentrasi nitrogen. Jika berlebihan , sosok tanaman bongsor tetapi rentan terhadap serangan penyakit. Nitrogen yang berasal dari amonium akan memperlambat pertumbuhan karena mengikat karbohidrat sehingga pasokan sedikit. Dengan demikian cadangan makanan sebagai modal berbunga juga minimal. Akibatnya tanaman tidak mampu berbunga. Seandainya yang dominan adalah nitrogen bentuk nitrat , maka sel-sel tanaman akan kompak dan kuat sehingga lebih tahan penyakit. Untuk mengetahui kandungan N dan bentuk nitrogen dari pupuk bisa dilihat dari kemasan


Gejala kekurangan
Tanaman yang kekurangan nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah. Produksi bunga dan biji rendah.

Kelebihan
Warna daun terlalu hijau , tanaman rimbun dengan daun. Proses pembuangan menjadi lama. Adenium bakal bersifat sekulen karena mengandung banyak air. Hal itu menyebebkan rentan serangan cendawan dan penyakit , dan mudah roboh. Produksi bunga menurun.

b. Fosfor (P)

Fosfor merupakan komponen penyusun beberapa enzim , protein , ATP , RNA , dan DNA. ATP penting untuk proses transfer energi , sedangkan RNA dan DNA menentukan sifat genetik tanaman. Unsur P juga berperan pada pertumbuhan benih , akar , bunga , dan buah. Dengan membaiknya struktur perakaran sehingga daya serap nutrisi pun lebih baik.
Bersama denga kalium , fosfor dipakai untuk merangsang pembungaan. Hal itu wajar sebab kebutuhan tanaman terhadap fosfor meningkat tinggi ketika tanaman akan berbunga.


Kekurangan
Dimulai dari daun tua menjadi keunguan cenderung kelabu. Tepi daun cokelat , tulang daun muda berwarna hijau gelap. Hangus , pertumbuhan daun kecil , kerdil , dan akhirnya rontok. Fase pertumbuhan lambat dan tanaman kerdil.

Kelebihan
Kelebihan P menyebabkan penyerapan unsur lain terutama unsur mikro seperti besi (Fe) , tembaga(Cu) , dan seng(Zn) terganggu. Namun gejalanya tidak terlihat secara fisik pada tanaman.

c. Kalium (K)
Kalium berperan sebagai pengatur proses fisiologi tanaman seperti fotosintetis , akumulasi , translokasi , transportasi karbohidrat , membuka menutupnya stomata , atau mengatur distribusi air dalam jaringan dan sel. Kekurangan unsur ini menyebabkan daun seperti terbakardan akhirnya gugur.
Unsur kalium berhubungan erat dengan kalsium dan magnesium. Ada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Dan juga antara kalium dan magnesium. Sifat antagonisme ini menyebabkan kekalahan salah satu unsur untuk diserap tanaman jika komposisinya tidak seimbang. Unsur kalium diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan kalsium dan magnesium. Jika unsur kalium berlebih gejalanya sama dengan kekurangan magnesium. Sebab , sifat antagonisme antara kalium dan magnesium lebih besar daripada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium. Kendati demkian , pada beberapa kasus , kelebihan kalium gejalanya mirip tanaman kekurangan kalsium.


Kekurangan
Kekurangan K terlihat dari daun paling bawah yang kering atau ada bercak hangus. Bunga mudah rontok. Tepi daun 'hangus' , daun menggulung ke bawah , dan rentan terhadap serangan penyakit.

Kelebihan
Kelebihan K menyebabkan penyerapan Ca dan Mg terganggu. Pertumbuhan tanaman terhambat. sehingga tanaman mengalami defisiensi.

d. Magnesium (Mg)
Magnesium adalah aktivator yang berperan dalam transportasi energi beberapa enzim di dalam tanaman. Unsur ini sangat dominan keberadaannya di daun , terutama untuk ketersediaan klorofil. Jadi kecukupan magnesium sangat diperlukan untuk memperlancar proses fotosintesis. Unsur itu juga merupakan komponen inti pembentukan klorofil dan enzim di berbagai proses sintesis protein.
Kekurangan magnesium menyebabkan sejumlah unsur tidak terangkut karena energi yang tersedia sedikit. Yang terbawa hanyalah unsur berbobot 'ringan' seperti nitrogen. Akibatnya terbentuk sel-sel berukuran besar tetapi encer. Jaringan menjadi lemah dan jarak antarruas panjang. Ciri-ciri persis seperti gejala etiolasi-kekurangan cahaya pada tanaman.


Gejala Kekurangan
Muncul bercak-bercak kuningdi permukaan daun tua. Hal ini terjadi karena Mg diangkut ke daun muda. Daun tua menjadi lemahd dan akhirnya mudah terserang penyakit , terutama embun tepung (powdery mildew).

Kelebihan
Kelebihan Mg tidak menimbulkan gejala ekstrim.

e. Kalsium (Ca)
Unsur ini yang paling berperan adalah pertumbuhan sel. Ia komponen yang menguatkan , dan mengatur daya tembus , serta merawat dinding sel. Perannya sangat penting pada titik tumbuh akar. Bahkan bila terjadi defiensi Ca , pembentukan dan pertumbuhan akar terganggu , dan berakibat penyerapan hara terhambat. Ca berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel , dan mengatur distribusi hasil fotosintesis.


Kekurangan
Gejala kekurangan kalsium yaitu titik tumbuh lemah , terjadi perubahan bentuk daun , mengeriting , kecil , dan akhirnya rontok. Kalsium menyebabkan tanaman tinggi tetapi tidak kekar. Karena berefek langsung pada titik tumbuh maka kekurangan unsur ini menyebabkan produksi bunga terhambat. Bunga gugur juga efek kekurangan kalsium.

Kelebihan
Kelebihan kalsium tidak berefek banyak , hanya mempengaruhi pH tanah.


2. UNSUR MiKRO

Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit . Walaupun hanya diserap dalam jumlah kecil , tetapi amat penting untuk menunjang keberhasilan proses-proses dalam tumbuhan. Tanpa unsur mikro , bunga adenium tidak tampil prima. Bunga akan lunglai , dll. Unsur mikro itu , adalah: boron , besi , tembaga , mangan , seng , dan molibdenum.

a. Boron (B)
Boron memiliki kaitan erat dengan proses pembentukan , pembelahan dan diferensiasi , dan pembagian tugas sel. Hal ini terkait dengan perannya dalam sintetis RNA , bahan dasar pembentukan sel. Boron diangkut dari akar ke tajuk tanaman melalui pembuluh xylem. Di dalam tanah boron tersedia dalam jumlah terbatas dan mudah tercuci. Kekurangan boron paling sering dijumpai pada adenium. Cirinya mirip daun variegeta.


Kekurangan
Daun berwarna lebih gelap dibanding daun normal , tebal , dan mengkerut.

Kelebihan
Ujung daun kuning dan mengalami nekrosis

b. Tembaga(Cu)
Fungsi penting tembaga adalah aktivator dan membawa beberapa enzim. Dia juga berperan membantu kelancaran proses fotosintesis. Pembentuk klorofil , dan berperan dalam funsi reproduksi.


Kekurangan
Daun berwarna hijau kebiruan , tunas daun menguncup dan tumbuh kecil , pertumbuhan bunga terhambat.

Kelebihan
Tanaman tumbuh kerdil , percabangan terbatas , pembentukan akar terhambat , akar menebal dan berwarna gelap.


c. Seng(Zn)
Hampir mirip dengan Mn dan Mg , sengat berperan dalam aktivator enzim , pembentukan klorofil dan membantu proses fotosintesis. Kekurangan biasanya terjadi pada media yang sudah lama digunakan.



Kekurangan
Pertumbuhan lambat , jarak antar buku pendek , daun kerdil , mengkerut , atau menggulung di satu sisi lalu disusul dengan kerontokan. Bakal buah menguning , terbuka , dan akhirnya gugur. Buah pun akan lebih lemas dan sehingga buah yang seharusnya lurus membengkok.

kelebihan
Kelebihan seng tidak menunjukkan dampak nyata.

d. Besi (fe)
Besi berperan dalam proses pembentukan protein , sebagai katalisator pembentukan klorofil. Besi berperan sebagai pembawa elektron pada proses fotosintetis dan respirasi , sekaligus menjadi aktivator beberapa enzim. Unsur ini tidak mudah bergerak sehigga bila terjadi kekurangan sulit diperbaiki. Fe paling sering bertentanganatau antagonis dengan unsur mikro lain. Untuk mengurangi efek itu , maka Fe sering dibungkus dengan Kelat (chelate) seperti EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid). EDTA adalah suatu komponen organik yang bersifat menstabilkan ion metal. Adanya EDTA maka sifat antagonis Fe pada pH tinggi berkurang jauh. Di pasaran dijumpai dengan merek Fe-EDTA.


Kekurangan
Kekurangan besi ditunjukkan dengan gejala klorosis dan daun menguning atau nekrosa. Daun muda tampak putih karena kurang klorofil. Selain itu terjadi karena kerusakan akar. Jika adenium dikeluarkan dari potnya akan terlihat potongan-potongan akar yang mati.

Kelebihan
Pemberian pupuk dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada daun.

f. Molibdenum(Mo):
Mo bertugas sebagai pembawa elektron untuk mengubah nitrat menjadi enzim. Unsur ini juga berperan dalam fiksasi nitrogen.


Kekurangan
Ditunjukkan dengan munculnya klorosis di daun tua , kemudian menjalar ke daun muda

Kelebihan
Kelebihan tidak menunjukkan gejala yang nyata pada adenium.

B. JENIS-JENIS PUPUK DAN SIFATNYA

Unsur-unsur yang dibutuhkan adenium dikemas oleh produsen menjadi pupuk dalam aneka dalam rupa dan bentuk. Dari segi bentuk pupuk dikemas dalam cairan , bubuk , tablet , kapsul , dan butiran. Sedangkan dari segi bahan baku dikenal istilah pupuk anorganik dan organik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan kimia. Organik , berasal dari bahan alam.

1. Pupuk anorganik
Secara umum ada dua jenis pupuk anorganik yang tersedia di pasaran: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal dibuat dari satu unsur secara dominan. Contohnya Urea yang mengandung N , TSP atau SP 36 denganP , dan KCl atau ZK dengan unsur K yang dominan. Pupuk majemuk mengandung lebih dari satu jenis unsur. Misalnya DAP dan Amofos yang terbuat dari N dan P. Pupuk majemuk juga bisa tersusun dari 3 unsur. Sebut juga Rustica Yellow dan Mutiara. Kedua pupuk itu dilengkapi dengan kandungan N , P , dan K. Produsen pupuk biasanya jgua menambahkan unsur-unsur mikro seperti Fe , B , Mo , Mn , dan Cu.
Agar praktis , pekebun biasanya memakai pupuk majemuk. Umumnya di pasaran beredar pupuk dengan kandungan utama Nitrogen , fosfor , dan kalium dengan berbagai perbandingan. Besar kecilnya perbandingan itu dicantumkan di label kemasan. Tulisan 20:10:10 artinya kandungan nitrogen paling tinggi sehingga tepat digunakan untuk masa pertumbuhan.

2. Pupuk Organik

Pupuk organik sudah sejak lama digunakan orang. Munculnya tren 'kembali ke alam' mendorong munculnya pupuk organik yang diproses dan dikemas secara modern. Bahan baku pembuatannya bermacam-macam , antara lain dari guano , kotoran kelelawar yang sudah diproses , limbah tanaman , ikan , dan hewan. Beberapa jenis biota laut seperti alga , kerang juga diekstrak menjadi pupuk organik
Dewasa ini pupuk berlabel organik itu sudah dikemas modern dalam wadah tertutup. Bentuknya serupa dengan pupuk anorganik bisa berupa cairan , serbuk , atau butiran. Label berisi komposisi dan petunjuk pemakaian juga tertera di kemasan. Sebelum membeli dan memakai perhatikan kandungan nutrisinya.
Perlu diingat Pupuk tidak mencegah kedatangan hama dan penyakit. Untuk itu tetap diperlukan sejumlah insektisida atau fungisida tatkala patogen menyerang. Pemakaian pestisida dengan kandungan sama dalam waktu lama bisa menimbulkan resistensi. Cara yang lazim dipakai ialah memakai pestisida secara bergantian.
Penggunaan satu jenis pupuk dalam jangka panjang merugikan pertumbuhan tanaman. Sebab pupuk itu mengandung unsur tertentu seperti nitrogen , fosfor , dan kalium yang tinggi. Segera ganti dengan pupuk dengan ratio seimbang atau unsur lain yang lebih tinggi. Selain pupuk utama itu , juga dibarengi dengan berbagai 'suplemen'. Tujuannya tentu saja agar pertumbuhan tanaman kian bagus. Beberapa diantaranya , yaitu: Vitamin B1.
Vitamin B1 , salah satu zat untuk mempercepat pertumbuhan adenium , juga pemulihan "tenaga" usai pindah tanam. Vitamin itu termasuk kelompok fitohormon , yaitu suatu zat yang dalam jumlah kecil/sedikit mampu memacu pertumbuhan. Penggunaan vitamin B1 pada adenium diharapkan mampu mengatasi masalah lambatnya pertumbuhan tanaman.

a. minyak Ikan/Tepung Ikan
Pupuk ikan atau minyak ikan juga membantu pertumbuhan adenium dan memperkuat daya tahan tanaman. Penggunaannya diselang-seling dengan pupuk lain. Selain itu , aroma amis cukup mengganggu penciuman.

b. Konsentrat pekat
Konsentrat pekat merupakan bahan kimia biasa yang telah dipadukan oleh produsen untuk membantu pekebun yang ingin praktis. Ia mengandung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman. Bahan ini biasa dipakai oleh pekebun hidroponik yang ingin praktis dalam pemupukan.
Pupuk disebut A&B mix itu diformulasi secara khusus sesuai dengan jenis dan fase pertumbuhan tanaman. Keistimewaan pupuk itu ialah selain mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman , juga menggunakan bahan-bahan yang 100% larut dalam air. Karena itu cocok diaplikasikan pada tanaman secara irigasi semprot. Caar penggunaan juga sangat praktis dan dapat disimpan dalam waktu cukup lama.

Sumber : myadenium.com

Baca Selengkapnya...