| 1 komentar ]


ENDE — Pengembangan budidaya padi dengan teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik atau IPAT-BO pada tahap uji coba di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, telah menghasilkan 10,4 ton padi per hektar.

Hal itu diketahui berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan di lahan seluas 8 are di Kelurahan Rewarangga Selatan, Kecamatan Ende Timur. Dari pengambilan sampel ubinan seluas 2,5 meter x 2,5 meter, hasil panen itu setara dengan 10,4 ton per ha.

Ini baru tahap awal. Sebenarnya proyeksi dari penerapan IPAT-BO bisa lebih dari 10,4 ton. Di Jawa Barat lewat IPAT-BO dapat menghasilkan 16 ton per hektar, kata Koordinator Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat Kabupaten Ende Stefanus Tany Temu, Sabtu (7/3) di Ende.

Pengembangan IPAT-BO di Ende itu kerja sama antara Universitas Padjadjaran, Universitas Nusa Cendana, Universitas Flores, dan pemerintah daerah setempat dalam hal ini Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat Kabupaten Ende.

Stefanus juga menjelaskan, dari lahan 8 are itu hanya dipakai benih padi varietas ciherang 0,5 kilogram. Dengan teknologi IPAT-BO memang lebih hemat benih. Jika pada budidaya padi konvensional (anaerob) dibutuhkan benih sekitar 25 kg per ha, dengan IPAT-BO hanya berkisar 5 kg.

Teknologi IPAT-BO dipandang tepat untuk diterapkan di wilayah NTT, termasuk Ende yang memiliki curah hujan rendah dalam setahun. Sementara itu, teknologi IPAT-BO itu justru baik untuk budidaya padi pada musim kering. Dengan hasil uji coba yang setara 10,4 ton per ha itu pun lebih baik daripada hasil panen padi selama ini di Ende (konvensional) yang hanya antara 3 ton dan 5 ton per ha.

Sementara itu, Profesor Tualar Simamarta dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, penemu teknologi IPAT-BO, mengatakan, IPAT-BO amat cocok diterapkan untuk budidaya padi di wilayah NTT.

"Dengan teknologi ini dapat menaikkan produksi lebih cepat, hemat benih, dan penggunaan pupuk cukup 50 persen dari sistem konvensional dengan ditambah pupuk organik, " kata Tualar.

Sumber : Kompas.com

Baca Selengkapnya...
| 0 komentar ]

Penanaman padi menggunakan teknologi itensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) dinilai cocok dikembangkan di Kabupaten Ende. Sedianya teknologi ini akan dikembangkan pada wilayah yang merupakan sentra penghasil beras seperti kawasan utara Ende meliputi Kecamatan Kota Baru, Maurole, Weweria, dan Maukaro, serta Kecamatan Detusoko.

Kepala BKP3 Kabupaten Ende, Ir. Flafianus Senda mengatakan hal itu saat panen padi di lahan sawah milik Dominikus Davi, di Kelurahan Rewarangga Selatan, Kecamatan Ende Utara Kabupaten Ende, Kamis (12/3/2009).

Lahan sawah milik Dominikus Davi menjadi tempat ujicoba pengembangan padi dengan teknologi IPAT-BO untuk Kabupaten Ende.

Flafianus mengatakan, berdasarkan hasil ujicoba yang dilakukan di lahan Dominikus Davi menunjukan hasil optimal maka pihaknya merekomendasikan bahwa teknologi serupa secara umum dapat dikembangkan di semua wilayah di Kabupaten Ende.

Teknologi IPAT-BO hemat air, hemat pupuk dan hemat bibit namun hasilnya memuaskan. Saya rasa teknologi ini dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Ende yang umumnya kekurangan air, ujarny.

Menurutnya, kawasan utara Ende banyak lahan sawah namun sejuah ini belum optimal dimanfaatkan karena kekurangan air. Namun dengan teknologi penamanan padi menggunakan IPAT-BO maka lahan tersebut dapat dimanfaatkan.

Dijelaskannya, hasil ujicoba yang dilakukan di lahan sawah milik Dominikus Davi dikalkulasikan dengan menggunakan teknologi ini padi yang ditanam pada lahan 1 ha menghasilkan padi 10,4 ton dengan bibit 5 kg. Dengan teknologi manual yang dipakai petani selama ini 1 ha gunakan bibit 5 kg namun hanya menghasilkan padi 3 ton.

Dikatakannya, terkait teknologi IPAT-BO mulai tahun 2009 BKP3 Ende akan menaikan usulan kepada pemerintah dan DPRD guna mendapatkan dukungan agar teknologi ini dapat diperkenalkan kepada semua petani di kabupaten ini.
Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi, saat panen padi mengatakan, pemerintah menyambut positif pengembangan teknologi IPAT-BO di wilayah kabupaten ini karena dinilai cocok dengan karakteristik wilayah setempat.

Dikatakan, tehknologi intensifikasi padi areob terkendali berbasis organic adalah sistem produksi holistik dan terencana dengan memanfaatkan kekuatan biologis tanah dan tanaman untuk melipatgandakan hasil padi.

Menggunakan IPAT-BO pada lahan sawah petani dapat menghemat air 75 persen, hemat bibit 50 persen, hemat pupuk anorganik 50 persen serta hemat pestisida.

Acara panen padi di arela ujicoba teknologi IPAT-BO di sawah milik Dominikus Davi, Kamis (12/3/2009) siang dilakukan tenaga harian lepas (THL) pada Kantor BKP3 Ende sebanyak 30 orang. (*)

sumber : www.pos-kupang.com

Baca Selengkapnya...
| 0 komentar ]

Program IPAT BO Bisa Genjot Surplus Beras
KABUPATEN Gowa terletak di wilayah selatan Sulsel dengan berbatasan delapan kabupaten yakni sebelah utara kota Makassar dan Maros, sebelah timur Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng, sebelah selatan berbatasan Takalar dan Jeneponto. Sebelah baratnya berbatasan kota Makassar dan Takalar. Gowa memang terletak di wilayah strategis dengan luas 1.883,33 Km2 atau (3,01) dari luas wilayah Sulsel.
Didukung 18 kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan 167 dan tersebar di dataran tinggi untuk 9 kecamatan dan 9 kecamatan lagi di dataran rendah. Di kabupaten ini dikenal dua musim tanam yakni musim kemarau (gadu) antara April-September dan musim hujan (rendengan) pada Oktober hingga Maret.

Kondisi inilah yang membuat Gowa berada pada posisi strategis dan potensial pada beberapa sektor. Sehingga Gowa pun bisa menanam padi dua kali dan palawija satu kali per tahun pada sawah irigasi teknis. Sedang pada sawah tadah hujan dapat memperoleh hasil padi satu kali dan palawija dua kali per tahun. Untuk lahan kering dimanfaatkan untuk komoditi jagung, ubi kayu, kacang tanah, sayuran dan buah.
Selain tanaman pangan tersebut, Gowa juga potensial mengembangkan komoditi perkebunan seperti kopi, tebu, jambu mente. Semua jenis tanaman baik untuk pangan serta perkebunan dipetik di atas luas lahan pertanian Gowa 32.174 hektare (sawah). Sawah irigasi teknis 11.577 hektare yang airnya bersumber dari Dam Bilibili dan sisanya masih berpengairan sederhana dan tadah hujan. Lahan kering 36.840 hektare terdiri dari tegalan dan ladang. Perkebunan 8.356 hektare serta padang rumput 1.361 hektater dan 10.369 hektare berupa pekarangan.
Dari tahun ke tahun ini, Pemkab Gowa mulai membagi potensi pengembangan sektor pertanian dengan berfokus pada lima wilayah. Untuk sentra pengembangan padi di Kecamatan Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan Bontonompo Selatan. Sentra pengembangan jagung dipusatkan di Kecamatan Tompobulu, Biringbulu, Bungaya dan Bontolempangan. Sentra sayuran dan markisa di Tinggimoncong serta Tombolopao. Sentra buah-buahan di Bontomarannu, ParangloE dan Manuju sedang sentra pengembangan ubi kayu di Pattallassang, Biringbulu dan Tompobulu.
Dari pengembangan sentra produksi tersebut, berbagai program peningkatan produksi padi pun digencarkan Gowa dalam berbagai program. Seperti gerakan pembangunan ekonomi masyarakat (Gerbang Emas), program peningkatan produksi beras nasional (P2BN) dan tahun 2008 ini, Gowa mengujicoba pengembangan program IPAT BO (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik). Kesemuanya itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Teknologi IPAT BO ini sudah diuji di 8 kecamatan dengan 15 lokasi kelompok tani. Setelah dicoba kembangkan, program IPAT BO ini menunjukkan hasil sukses. Di Kecamatan Bontonompo ubinan mencapai 7,68-8,96 ton per hektare. Di Barombong ubinan mencapai 6,72-10,40 ton per hektare. Di Bajeng Barat 8,80 ton per hektare dan di Somba Opu di Kelurahan Bontoramba mencapai 7,68-9,60 ton per hektare.
Karena, keberhasilan ini, Pmkab akan memprogramkan IPAT BO musim tanam 2008/2009 pada 167 desa/kelurahan. Setiap desa programkan 2 hektare. Jumat pekan kemarin, Pemkab kembali panen padi program IPAT BO-SL PTT musim tanam 2008 terkait TNI Manunggal Pertanian di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu.
Dalam kesempatan itu, Bupati Gowa, H Ichsan YL SH berharap, Gowa bisa menjadi laboratorium lapangan dalam rangka upaya peningkatan produksi padi dan kualitas beras. Dan pengembangan teknologi IPAT BO, kata Bupati, bisa menggenjot surplus beras yang diharapkan saat ini. (SARIBULAN)

Baca Selengkapnya...
| 1 komentar ]

Indonesia sangat disayangkan hingga kini kekurangan para pebisnis produk pertanian level menengah ke atas termasuk level dunia, dan kecenderungannya yang ada hanya pebisnis level menengah ke bawah sehingga pedagang-pedagang di tingkat duniapun bukan dipegang orang Indonesia hingga akibatnya margin yang diterima kecil.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan hal itu di Jakarta, pada Press Conference dan Technical Meeting menjelang penyelenggaraan Agrinex Expo 2009 mendatang di Jakarta, yakni sebuah pameran agribisnis yang dikemas dengan kegiatan lain.

Betapa sedihnya kita, kata Menteri Pertanian, ketika mengetahui produk-produk pertanian Indonesia lari ke Singapura dan akhirnya ke negara lain hanya dikarenakan Indonesia kekurangan pebisnis produk pertanian.

Namun pihaknya optimis, Indonesia akan mampu bermain di tingkat regional bahkan suatu saat ke tingkat internasional, dan itu sudah dibuktikan untuk produk perkebunan seperti sawit, karet dan kakao. Karena itu sudah saatnya untuk meningkatkan komoditas yang lain seperti hortikultura, pangan, peternakan sapi, dan untuk menuju ke sana masih membutuhkan upaya keras.

Ia juga mengatakan, dengan potensi yang ada maka Indonesia sangat mungkin untuk bermain di tingkat regional. Potensi sumberdaya alam ada dan potensi yang ada masih bisa ditingkatkan apalagi berbicara masalah perluasan, sebagai contoh, ratusan ribu hektar rawa lebak di Sumatera, Kalimantan belum tergali. “Di kalimantan masih 2 juta hektar yang belum dioptimalkan, belum lagi farm buah-buahan di Merauke yang didorong terus dan sampai kini belum terealisir”, katanya.

Pertanian istilahnya adalah nyawa karena punya SDA dan SDM yang keduanya kadang-kadang tidak dimiliki negara lain. Jepang punya SDM luar biasa tapi SDA terbatas, demikian pula Israel Thailand tapi kenyataan negara-negara tersebut dapat maju, sementara Indonesia punya keduanya sehingga dibilang kufur kalau keduanya tidak bisa dioptimalkan.

Sumber : sinartani.com

Baca Selengkapnya...
| 0 komentar ]

Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan produksi padi atau gabah kering giling (GKG) tahun 2009 akan mencapai 60,93 juta ton. "Angka Ramalan I (Aram I) produksi padi tahun 2009 diperkirakan sebesar 60,93 juta ton," kata Kepala BPS Rusman Heriawan, di Jakarta, Senin (2/3).

Menurut dia, jika dibandingkan dengan produksi tahun 2008, terjadi peningkatan sebanyak 0,68 juta ton atau 1,13 persen GKG. Karena itu, lanjut dia, rencana ekspor beras pemerintah masih memungkinkan untuk dilakukan oleh Perum Bulog. Kenaikan produksi tersebut, menurut perkiraan BPS, terjadi karena peningkatan luas panen seluas 113.000 hektare atau 0,9 persen. Selain itu, produktivitas mengalami peningkatan sebesar 0,10 kuintal per hektare atau 0,2 persen. Kenaikan produksi padi pada tahun 2009 itu, dia mengatakan, diperkirakan terdapat di beberapa provinsi, terutama di Provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Riau. BPS sendiri mencatat angka sementara (asem) produksi padi tahun 2008 mencapai 60,25 juta ton GKG. Jika dibandingkan produksi tahun 2007, maka telah terjadi peningkatan sebanyak 3,09 juta ton atau 5,41 persen.

Kenaikan produksi pada saat itu terjadi karena peningkatan luas panen seluas 161,52 ribu hektare atau 1,33 persen sehingga produksi meningkat sebesar 1,9 kuintal per hektare atau 4,04 persen. Lebih jauh dia mengatakan, kenaikan produksi padi tahun 2008 terjadi di beberapa provinsi, diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah. Sedangkan untuk kedelai, BPS memprediksikan di 2009 produksi kedelai mencapai 850,23 ribu ton biji kering. Dibandingkan produksi 2008 terjadi kenaikan sebesar 73,74 ribu ton atau 9,5 persen. "Kenaikan produksi padi 2009 terjadi karena peningkatan luas panen seluas 46,2 ribu hektar atau 7,81 persen dan juga produktivitas sebesar 0,2 kuintal/hektar atau 1,52 persen," tuturnya. Rusman juga menambahkan, kenaikan produksi kedelai terjadi di beberapa provinsi, terutama Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Banten, Sumatera Selatan, dan Lampung. "Kenaikan kedelai paling signifikan karena ada peralihan petani pada kedelai akibat kenaikan harga kedelai tahun lalu," katanya. (Indra/suara karya)

Baca Selengkapnya...
| 0 komentar ]


Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang memberikan kesempatan kepada petani padi untuk ikut serta dalam program penurunan produksi padi, yang merupakan kebalikan dari kebijakan produksi padi selama ini, kata sumber dari Kementerian tersebut pada hari Selasa (3 Pebruari 2009).

Dengan sistem ini, hanya para petani yang ikut serta dalam usaha penurunan produksi padi yang sejalan dengan kebijakan pemerintah diberikan tunjangan, kata sumber tersebut.

Belum diketahui apakah koperasi pertanian dan petani padi yang telah mematuhi kebijakan pemerintah dalam pengurangan tanaman pangan selama bertahun-tahun akan menentang perubahan kebijakan ini.

Langkah ini dapat memaksa industri padi – yang telah diproteksi selama beberapa dekade – secara drastis berubah menuju liberalisasi. Selama ini pemerintah telah membantu petani padi dengan membeli gabah ketika harga jatuh.

Para petani yang patuh dengan kebijakan penurunan produksi padi ini biasanya menjual hasil panenannya melalui koperasi. Apabila mereka diberikan pilihan untuk mengurangi penanaman padi, komisi penjualan yang diterima koperasi bisa menurun.

Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan bertujuan maju ke depan dengan perubahan kebijakan tersebut sebagai pilar utama dalam reformasi pertanian yang diharapkan pada tahun fiskal 2010, kata sumber tersebut.

Menteri Pertanian Shigeru Ishiba telah mengatakan bahwa kebijakan padi nasional harus dirubah karena beberapa petani padi yang tidak patuh terhadap kebijakan pengurangan produksi padi ini masih memperoleh keuntungan dari kebijakan bantuan harga dari pemerintah.

“Kami akan melakukan kajian semua peraturan yang memungkinkan (untuk penggantian sistem)” kata Ishiba di Konperensi press.

Jika kebijakan ini diterapkan, petani yang memilih untuk tidak turut serta dalam pengurangan produksi padinya akan lebih bebas dalam melakukan usaha taninya dan akan dapat memproduksi varietas padi yang terkenal sesuai dengan kondisi pasar. Akan tetapi bisa juga mereka akan menderita apabila harga beras jatuh tajam karena mereka tidak memperoleh bantuan finansial dari Pemerintah.

Sebuah badan yang anggotanya terdiri dari delegasi organisasi pertanian dan para pakar pertanian akan dibentuk guna membuat perencanaan yang menentukan, kata sumber tersebut.

Dengan kebijakan ini, Pemerintah mengarahkan para petani untuk mengurangi penanaman padinya dan diganti ditanami dengan tanaman pangan lain.

Japan Times 3 Pebruari 2009

Sumber:http://atanitokyo.blogspot.com

Baca Selengkapnya...